Merenungi Makhluk, Kunci Mengenal Khalik
Manusia selaku makhluk yang memiliki anggota tubuh berupa tangan, kaki, kepala, anggota tubuh lainnya berkewajiban untuk mengetahui tugas yang harus dijalankan setiap anggota tubuh. Namun ia tidak bisa terwujud kecuali dengan terlebih dahulu mengetahui tugas utama manusia itu sendiri, serta mengetahui perintah dan kewajiban yang Allah bebankan kepadanya.
Setiap orang dianugerahi akal, sedang tugas utama akal adalah berpikir. Maka apabila tugas tersebut tidak berjalan semestinya, niscaya rusaklah fungsi serta tugas utama akal. Akibatnya, akal akan jauh dari hal-hal yang mengandung kebaikan dan sebaliknya, akan rentan dengan hal-hal yang mengandung keburukan.
Allah selaku Pencipta kita telah menyerukan di dalam al-Qur'an agar kita memikirkan apa yang ada di sekitar kita. Allah berfirman,
"Mereka berkata, "Tidak ada yang kami takutkan, karena kami akan kembali ke Rabb kami." (Asy-Syu'ara: 50)
Allah juga berfirman,
"Dan, mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka .... ?" (Ar-Rum: 8)
Allah, ketika menyerukan kepada makhluk-Nya agar berpikir, membatasi pada hal-hal yang bisa dijangkau akal. Allah pun menyeru kita untuk merenungkan ciptaan Allah, baik yang ada di langit maupun di bumi, baik apa yang ada dalam diri kita sendiri maupun yang ada pada orang lain.
Allah menyeru kita untuk mencermati alam luas ini, yang semua itu merupakan makhluk ciptaan-Nya. Ketika manusia mau berpikir dan merenung, niscaya ia akan sampai pada satu kesimpulan pasti, yaitu bahwa alam semesta yang besar nan agung ini pastilah ada Penciptanya, Yang Mahaagung lagi Mahamulia, yaitu Allah.
Dia adalah yang menciptakan makhluk hidup: manusia, tumbuh-tumbuhan, dan hewan. Dialah yang telah menciptakan langit, bumi, dan lautan. Dialah yang telah menciptakan apapun yang kita lihat di alam semesta nan luas ini.
Allah mempunyai sifat-sifat yang agung, sebagaimana Dia sematkan kepada Dzat-Nya dalam al-Quran. Juga seperti yang disematkan oleh makhluk-Nya yang paling mengetahui tentang-Nya, yakni Nabi terakhir, Muhammad shalallahu 'alaihi sallam.
Sumber: Al-Islam Muyyassar ilaa Fityaanil Islam, Syaikh Ali Hasan al-Halabi
Komentar
Posting Komentar