Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2021

Malaikat Pencatat Amal

Di antara Malaikat, ada juga yang ditugaskan Allah untuk senantiasa bersama kita, kapan dan di mana pun kita berada. Mereka mencatat semua amal perbuatan kita, yang baik maupun yang buruk. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, "Ataukah mereka mengira, bahwa Kami tidak mendengar rahasia dan bisikan-bisikan mereka? Sebenarnya (Kami mendengar), dan utusan-utusan Kami (malaikat) senantiasa mencatat di sisi mereka." (Az-Zukhruf: 80) Keimanan kita kepada para malaikat pencatat amal ini membuat kita selalu berhati-hati dan bersikap waspada agar tidak berbuat ataupun terjatuh dalam keburukan, sehingga keburukan tersebut tidak dicatat atas kita oleh para malaikat pencatat keburukan. Sebaliknya, keimanan ini membuat kita terus berharap dan termotivasi untuk berbuat kebaikan dan ketaatan, agar ketaatan tersebut dicatat oleh para malaikat pencatat amal kebaikan serta kebajikan. Sumber: Al-Islam Muyyassar ilaa Fityaanil Islam, Syaikh Ali Hasan al-Halabi

Malaikat Penolong Orang Beriman

Di antara pada malaikat Allah Azza wa Jalla terdapat malaikat yang diutus Allah untuk menolong orang-orang beriman. "(Ingatlah), ketika Rabbmu mewahyukan kepada para malaikat, "Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkanlah (pendirian) orang-orang yang telah beriman ...." (Al-Anfal: 12) Keimanan kita kepada malaikat yang ditugaskan untuk hal ini membuat kita beramal atas dasar keyakinan bahwa kita memang berhak mendapat pertolongan Allah melalui para malaikat tersebut. Sumber: Al-Islam Muyyassar ilaa Fityaanil Islam, Syaikh Ali Hasan al-Halabi

Malaikat Pencabut Nyawa

Di antara mereka ada malaikat-malaikat yang ditugaskan untuk mencabut roh manusia tatkala ajal yang ditentukan oleh-Nya telah tiba. Pemimpin mereka adalah Malakul Maut, malaikat pencabut nyawa. Ia mempunyai banyak pembantu (bala tentara) dari golongan malaikat. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, "Katakanlah, "Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa)mu akan mematikan kamu, kemudian kepada Rabbmu kamu akan dikembalikan."" (As-Sajdah: 11) Allah Subhanahu wa Ta'ala juga berfirman, "Dan, Dialah Penguasa mutlak atas semua hamba-Nya, dan diutus -Nya kepadamu malaikat-malaikat penjaga, sehingga apabila kematian datang kepada salah seorang di antara kamu, malaikat-malaikat Kami mencabut nyawanya, dan mereka tidak melalaikan tugasnya." (Al-An'am: 61) Sumber: Al-Islam Muyyassar ilaa Fityaanil Islam, Syaikh Ali Hasan al-Halabi

Tugas Mulia Malaikat

Tidak ada tugas yang lebih mulia daripada menyampaikan syariat Ilaha kepada para nabi dan rasul, sebelum disampaikan kepada umat manusia, agar mereka menyembah Allah semata. Tugas mulia ini Dia khususkan kepada para malaikat. "Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga, dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang Dia kehendaki. Sungguh, Allah Mahakuasa atas segala sesuatu." (Fathir: 1) Tugas mulia tersebut tidak mungkin diamanatkan apabila tidak terdapat sifat-sifat agung pada diri malaikat, berupa ciri yang membedakan dari makhluk Allah lainnya. Sumber: Al-Islam Muyyassar ilaa Fityaanil Islam, Syaikh Ali Hasan al-Halabi

Malaikat Tekun Beribadah

Ihwal terpenting yang membedakan di antara malaikat dan manusia adalah banyak sedikit ibadah kepada Allah. Mereka lebih banyak ibadahnya, bahkan malaikat itu tercipta dalam keadaan senantiasa beribadah kepada-Nya semata dan tidak pernah malas mengerjakannya. Allah berfirman, " ....yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." (At-Tahrim: 6) "Mereka (malaikat-malaikat) bertasbih tidak henti-hentinya malam dan siang." (Al-Anbiya: 20) Mereka adalah makhluk pilihan Allah. Karena itu, Allah memilih untuk mengerjakan tugas paling mulia  Sumber: Al-Islam Muyyassar ilaa Fityaanil Islam, Syaikh Ali Hasan al-Halabi

Malaikat adalah Makhluk Gaib

Malaikat adalah salah satu makhluk Allah. Mereka bersifat gaib dan tidak memiliki wujud yang bisa dilihat dengan mata atau tidak bisa disentuh dengan tangan. Mereka terpelihara dari kesalahan, kedurkahan, dan dosa. Malaikat bukan makhluk seperti manusia. Sebab, mereka tidak makan, tidak minum, dan tidak tidur. Mereka seakan berada di dimensi lain, yang amat berbeda karena memiliki sifat yang bertolak belakang dengan sifat manusia. Sumber: Al-Islam Muyyassar ilaa Fityaanil Islam, Syaikh Ali Hasan al-Halabi

Mengimani Malaikat

Salah satu pilar keimanan kepada Allah adalah beriman kepada para malaikat, mengenali hakikatnya dan mengetahui tugas-tugas yang dibebankan Allah kepada mereka. Dengan beriman kepada malaikat, kita dapat mengetahui banyak perkara yang sering kita pertanyakan dan ingin kita ketahui hakikatnya. Sumber: Al-Islam Muyyassar ilaa Fityaanil Islam, Syaikh Ali Hasan al-Halabi

Doa, Inti Ibadah

Satu ibadah penting yang tidak dipahami orang banyak adalah berdoa. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, "Dan, Rabbmu berfirman, "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk Neraka Jahanam dalam keadaan hina dina." (Al-Mukmin: 60) Nabi Muhammad shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Doa adalah ibadah." (HR. Abu Dawud) Jadi, ketika Anda menginginkan Allah memberi sesuatu seyogyanya Anda berdoa kepada-Nya dengan mengucapkan, "Ya Rabb, masukkanlah aku ke dalam Surga, selamatkanlah aku dari Neraka, dan ampunilah dosa kedua orang tuaku." Demikian pula dalam urusan lainnya, baik itu urusan dunia maupun urusan akhirat. Pada waktu berdoa, kita harus meyakini bahwa hanya Allah yang menciptakan, memiliki, dan mengabulkan doa. Doa Anda kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala merupakan inti ibadah serta bukti kebenaran iman kepada-Nya. Maka berdoalah kepada Dia semata, tid...

Beruntung dan Merugi

Siapakah orang yang beruntung di dunia? Siapakah pula yang merugi? Orang yang beruntung adalah yang melaksanakan segala perintah dan kewajiban dari Allah. Orang yang beruntung adalah yang beribadah kepada Dia dengan sebenarnya-benarnya. Orang yang beruntung adalah yang menjauhi larangan-Nya, segala yang bisa mendatangkan murka-Nya. Adapun orang yang merugi adalah orang yang durhaka kepada Allah serta melanggar segala perintah dan kewajiban yang ditetapkan Allah. Orang yang merugi adalah yang tidak beribadah kepada Allah. Orang yang merugi adalah yang berbuat maksiat dan mengerjakan larangan-Nya. Inilah orang yang benar-benar merugi, dan itulah orang yang benar-benar beruntung. Tentang korelasi antar keduanya, Rabb kita berfirman,  "Maka, siapa saja yang dijauhkan dari Neraka dan dimasukkan ke dalam Surga, sungguh ia telah beruntung." (Ali Imran: 185) Sumber: Al-Islam Muyyassar ilaa Fityaanil Islam, Syaikh Ali Hasan al-Halabi

Mengapa Harus Beribadah kepada Allah?

Tidak tertutup kemungkinan ada di antara kita yang bertanya-tanya dalam hati, mengapa kita harus beribadah kepada Allah semata? Satu-satunya jawaban untuk pertanyaan tersebut adalah karena Allah yang menciptakan alam semesta yang kini kita saksikan; bumi; langit; gunung; sungai; manusia, dan hewan. Dialah yang memiliki semua makhluk, dan Dia pula Pencipta segala sesuatu yang sebelumnya tidak ada ataupun hampa. Alasan lainnya, Allah semata yang memberi kita banyak nikmat, setelah menciptakan kita dan menyediakan segala sesuatu yang halal bagi kita di muka bumi ini. Dia pemilik tunggal seluruh yang ada di jagat raya ini, termasuk diri kita serta semua hal yang kita nikmati sekarang. Lihatlah dirimu sendiri! Apakah tangan, kaki, dan anggota badan yang lainnya milikmu? Tentu saja, jawabannya bukan. Karena, Anda, juga saya bukan pemilik semua itu.  Mengapa ditegaskan bukan pemilik anggota badanmu, padahal tatkala ingin memegang sesuatu Anda benar-benar dapat memegangnya dengan kedua tan...

Makna Ibadah

Ibadah berarti tunduk kepada perintah-perintah Allah dan melaksanakan segala yang diwajibkan-Nya kepada kita, serta menjauhi segala larangan-Nya. Di antara ibadah yang wajib kita kerjakan adalah shalat, puasa, berbakti kepada orang tua, dan berbuat baik kepada sesama manusia. Sumber: Al-Islam Muyyassar ilaa Fityaanil Islam, Syaikh Ali Hasan al-Halabi